Home » , » Pengaruh Modernisme dalam Perjalanan Seni Rupa di Indonesia

Pengaruh Modernisme dalam Perjalanan Seni Rupa di Indonesia

Posted by Shona Design on 25 September 2017

Apabila perjalanan seni modern (barat) muncul sejak awal abad XX; sejak post impresionisme di Eropa sampai pada seni hiperealisme atau superrealisme di Amerika, yang masing-masing dilatar-belakangi oleh budaya konsep yang semakin realistis. Munculnya gaya dan aliran  tersebut lebih diakibatkan karena ketidakpuasan dan ketidak kecocokan konsep, dan bahkan penolakan konsepsi, makan munculnya  gaya dan corak lebih tepat dikatakan sebagai satu demensi tandingan atau sebuah revolusi  tandingan (Stangos, Nikos, 1981)

Apa yang terjadi di Indonesia; sebuah para seniman dengan mudahnya mencomot apa yang ada di barat dan menjadi mode seni lukis dengan label modern. Konsep itulah yang menjebak kita ke dalam kekusutan konsep yang semakin terombang-ambing. Aliran dan atau gaya dalam pembagian kesejarahan seni lukis modern di barat dianggapnya sebagai satu aliran dogmatis yang harus dianutnya. Seniman seolah harus memilih sebuah aliran seperti halnya dalam agama.
Perjalanan seni lukis dengan label modern terus bergulir, sampai  pada gilirannya seni lukis bukan lagi merupakan satu pencarian jati-diri namun kemudian sebagai satu alternatif  bentuk komoditas. Norma seni bermula  sebagai satu perwujudan komunitas beralih ke bentuk komoditas, bahkan sampai  pada titik puncak tertentu seni merupakan bentuk investasi, maka munculah “Boom seni lukis Indonesia”. Seni berpindah dari monomentalitas kebutuhan spirituil beralih ke dalam dunia investasi.

Sebagai catatan sejarah seni lukis 1990-an munculnya “Boom” seni lukis  Indonesia, Sanento Yuliman dalam seminar (1990) mengatakan bahwa  “Boom” dalam kamus Inggris-Indonesia John M. Echols dan Hasan Shadaly (Cornell University Press dan Gramedia, 1981) mengindonesiakannya dengan “sangat laku”. Sedang The Advanced Learners Dictionary Of Current English (Oxford University Press, 1963) diterangkan sebagai “kenaikan mendadak kegiatan dagang, terutama ketika kekayaan cepat didapat.

Boom seni lukis Indonesia yang sering dibicarakan ada awal 1990-an, terjadi pada golongan atau rumpun seni lukis tertentu. Mereka berasal dari bermacam daerah dan dilakukan di lapisan masyarakat menengah ke atas kita, berpusat di kota besar terutama Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Seluruh masa itu ditandai oleh peningkatan jumlah lukisan yang diperjualbelikan dan sangat laku. Terbukti ada peningkatan jumlah dan frekwensi pameran, pertumbuhan galeri komersial, pertumbuhan sponsor pameran dan bertambahnya kolektor lukisan. Di samping itu nampak bertambahnya pelukis yang terlibat, peningkatan harga lukisan, perluasan tempat-tempat pameran tidak hanya diselenggarakan di tempat-tempat tertentu, tetapi juga di hotel, bank dan pusat-pusat perbelanjaan. Gejala lain seperti pelelangan lukisan, pemalsuan lukisan, beredarnya kembali lukisan lama dan kuno (Sanento Yuliman, 1990: 1-2).

Gejala yang timbul pada masa “Boom seni lukis Indonesia”. Gejala pertama yaitu: gejala kemiskinan seni lukis, pemiskinan dalam ragam atau macam medium dan teknik yang semakin menyusut. Medan seni lukis mengangkat kanvas, cat minyak dan akrelik menjadi medium bangsawan, sedang medium lain tersepak ke sisi dan nyaris lenyap dan menjadi medium “sudra” dihindari pembutuh lukisan, galeri dan oleh pelukis dalam pameran. Penyusutan macam bahan, ragam rupa, melibatkan penyusutan pengalaman estetik yang ditawarkan. Penyusutan pokok dan thema, cenderung memberikan rasa aman, mapan, lembut, manis dan thema yang menegangkan dan mengganggu perasaan dijauhkan (Sanento Yuliman, 1990: 14).

Boom  bukan sebagai peristiwa kesenian, tetapi menjadi “mode” kaum berduit. Boom lukisan cukup meresahkan di kalangan pelukis, kolektor dan juga kritikus. Selain beragam alasan yang ada, bila dikaji secara teliti yang menonjol adalah adanya kegoyahan otoritas mereka. Para pelukis senior merasa kelasnya “terancam”. Para kolektor yang sering memegang otoritas harga menjadi kacau oleh kolektor baru yang obral duit, saingan menjadi semakin tajam; tolak ukur nilai kesenian terabaikan dan terlewati begitu saja (Sutopo. HB, 1990: 3).

Akibat “boom” seni lukis sangat terasa. Perkembangan kesenian seni rupa khususnya seni lukis, mengalami krisis estetika. Boom sebuah karya seni tidak sepenuhnya diukur dari nilai estetika secara an-sich, tetapi dipertimbangkan dengan nilai mata uang dari harga sebuah karya seni. Dilihat dari segi kwantitas karya seni yang muncul dari pelukis sangat menggenbirakan, namun secara kwalitas perlu dipertanyakan kehadirannya.

Akibatnya: Persagi, yang mencita-citakan adanya Seni dengan pencarian identitas dan ciri lukis Indonesia khas Indonesia, cita-cita itu kini tinggal slogan yang sudah tidak dikenang lagi. Seniman dengan bangga mencomot salah satu aliran modern barat, kemudian menjadi mode seni lukisnya.  Ketika seni murni (Fine Art) mengarah pada seni rupa pertunjukan; performing art, instaliasi art, dan kolaborasi art, yang kemudian menjadi mode pameran seni rupa sampai pertengahan 1997. Ketika itu pula para seniman seni lukis konvensi mulai terombang-ambing, seperti anak ayam ditinggal induknya. Salah satu alternatif mereka bertahan pada posisinya dan mencari harapan karyanya untuk diinvestasi oleh kaum berduit. Akhirnya muncullah industri seni lukis Indonesia. Seniman berkiblat Bali dan Jakarta sebagai salah satu alternatif untuk menjual lukisannya (Pikiran Rakyat 5 Februari  1998).

Seniman dihadapkan dalam dua pilihan: pertama: tetap sebagai seniman idealis yang mencoba mempertahankan nilai, dengan mempertahjnkan seni sebagai terapi bathin, sehingga mampu menjadi monometalitas zaman, seni senafas dengan zamannya, seni sebagai satu potret kehidupan. Kedua  masuk dalam blantika seni lukis Indonsia, yang cukup menggiurkan.

Ketika norma seni berada  pada genggaman  tangan dari  seorang kritikus seperti Dan Suwaryono, Sanento Yuliman yang dengan tajamnya  mengkoreksi dunia, dan Sudarmaji yang begitu arif meniti kehidupan seni. Kini telah meninggalkan kita untuk selamanya.
Kritikus yang diharapkan mampu  meneruskan perjuangan mereka tentang keberadaan kritikus sebagai satu kepedulian perkembangan seni lukis Indonesia akar Indonesia, kini meninggalkan kita juga....... dengan dalih bahwa seni lukis Indonesia belum perlu kritik ?
Penulis, kritikus, pengamat seni lukis, yang diharapkan memberikan pemahaman kepada opini masyarakat , motivator, dan mediator, kini lebih nyaman dipangkuan para seniman kondang dan para kolektor yang lebih menjanjikan. Maka para kritikus memilih jadi korator  seni  yang lebih menjanjikan. atau jadi profokator (karena tak mampu meyakinkan kolektor).


0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar, mohon tidak menuliskan SARA

.comment-content a {display: none;}